0

Untuk Si Kuning, dari Si Biru

Assalamualaikum wr wb.

Sambil dengerin band yang telah tutup usia

Aku termasuk orang yang sedikit mempunyai Synesthesia, yaitu dapat mengasosiasikan warna ataupun huruf (dan jamaknya) dengan warna, seperti aku melihat 2015 dengan warna biru, 2016 dengan warna hijau. Dan sekarang dari hijau sudah melompat ke warna kuning, kuning cerah, 2017.

Paling asyik adalah melongok kebelakang, dalam momen kaleidoskop selama 2016. 2016 jelas tahun yang luar biasa, dimana aku mulai bangkit dari keterpurukanku di 2015-walau dalam beberapa aspek masih banyak yang perlu diperbaiki lagi-dan mulai menata diri, banyak hal baru dan amanah yang telah diemban, menjadi asisten laboratorium, menjadi Penanggung Jawab PC IMAKAHI UGM. Mendaftar dan mengikuti seluk beluk penuh drama dari KKN, mulai dari sebelum, selama KKN (aku harus mempunyai rubrik khusus tentang Desa Tumbang Mangkup tempatku KKN) hingga paska KKN.

Aku selalu mengatakan ini setiap menulis

“Banyak hal terjadi, tapi begitu sedikit yang aku tuliskan”

Memang. Tidak mungkin semua hal menarik yang aku alami, lihat, dan rasakan bisa aku tuliskan semua. Tetapi seharusnya aku lebih sering menulis. Ketika aku buka buku catatanku selama 2016 sangat sedikit yang aku torehkan dibanding tahun-tahun sebelumnya, kebanyakan karena aku terlalu sibuk, atau merasa sibuk, jadi ketika ada hal-hal menarik yang harusnya aku tulis semua berlalu begitu saja tanpa sempat aku tuliskan.

Sebuah penyesalan bagiku, rasanya, aku setuju dengan tulisan Edi Mulyono dalam kompilasinya “Kisah Pilu Manusia Kekinian” yang menerangkan bahwa sekarang hidup manusia itu surut akan makna, tidak sarat dengan kehidupan. Kebebasan bermedia sosial telah membuat manusia menuju level paling pragmatis, nulis tinggal post, guyon tinggal post, mengritik tinggal post, dan share share share tanpa melihat makna yang ada di dalamnya. Betapa mudahnya seseorang menyampaikan gagasan dan betapa mudahnya torehan like ada di tulisan mereka. Tapi kemudian kita berpikir lagi? akan ditaruh kemana arah tulisan-tulisan ini, manusia zaman sekarang (terutama akhir-akhir ini) sudah terkikis otak berpikirnya, sepertinya otak mereka sudah mengalami infark dan bukan hanya kekurangan oksigen tetapi pun juga kekurangan akal sehat. Dalam tulisannya, Edi Mulyono menjelaskan bahwa ada satu bagian penting dalam hidup manusia yang mulai hilang, yaitu ‘merenung’. Merenungi tentang hikmah yang ada di hari ini, rezeki yang didapat hari ini, tantangan hari esok, and so on. Mulai hilang, budaya merenung ini, karena setiap kali merasa merenung dengan mudahnya akan dituliskan di akun medsos ketimbang di hati untuk diproses lebih dalam lagi.. Bukan berarti aku iri ataupun tidak terima bukan, tetapi budaya merenung inilah yang memang dibutuhkan sebagian bangsa ini.

Sudahkah benar tingkah lakuku ini? Apa yang aku bawa? Apa yang aku ucapkan?

Kata Bapak Erie Sudewo, manusia ditentukan oleh 2K, Kompetensi dan Karakter.

Kompetensi membuat kita selalu meningkat, tetapi karakter membuat kita semakin masuk, semakin merasa kerdil, semakin tidak tahu apa-apa.

Maka dari itu aku agaknya sedikit menyesal mengapa aku jarang menulis, karena tulisanlah mediaku merenung, karena aku tipe yang ‘ngawang’, yang jikalau tidak menuliskan yang aku pikirkan maka akan berlalu begitu saja.

Ada banyak emosi di 2016 ini, especially, untuk organisasi(ku) IMAKAHI, bertemu begitu banyak orang dan tokoh, mendapat sokongan atau kecaman, dan dalam beberapa titik telah memaksaku untuk melewati batasku. Beberapa wawasanku mulai terbuka bahwa profesi ini tidak hanya tentang menyuntik sapi, tidak hanya tentang memeriksa sampel darah. Namun lebih kompleks dari itu, karena manusia memasukkan berbagi macam permasalahan. Mulai dari kejayaan profesi, hingga permasalahan yang dilakukan oleh oknum dokter hewan. Aku memasuki dunia penuh dengan berbagai kepentingan, aku yang cupu yang tidak mengerti dengan perpolitikan (dalam makna luas) pun juga berusaha untuk berhati-hati hingga akhirnya jabatan ini lepas 10 Desember kemarin.

Apakah beban sudah terangkat? Tentu. Tapi tidak juga, masih ada beberapa tanggungan yang belum bisa aku lepas seluruhnya, terutama adalah tanggung jawab untuk turut mendampingi pengurus baru untuk setahun ke depan. Tapi itu memang tekadku sejak awal.

Kadang aku berpikir, organisasi adalah sektor atau bahkan ekosistem yang paling menarik untuk dicermati, sumber solusi (niatnya) tapi kebanyakan justru seringkali menjadi sumber permasalahan. Beda kepala beda pemikiran. Inilah yang membuat organisasi menjadi ruyam, tapi juga itulah mengapa organisasi dibutuhkan. Karena selama manusia hidup mereka butuh sebuah struktur dan sistem untuk mengorganisir. Tapi sistem adalah buatan manusia, penuh kecacatan dari nalar berpikir kita yang pendek, sehingga intrik seringkali terjadi. Kadang bahkan visi yang dibawa organisasi jadi hilang karena organisasi itu sendiri, banyak macam banyak cerita. Aku pun salut pada mereka yang rela berkorban sebanyak itu demi organisasi. Maka dari itu aku menulis buku Organisasi Tidak Pernah Mati (on progress) dari sudut pandangku yang masih amat sempit ini.

Sudah cukup dengan organisasi, aku harus mentas (keluar-red) dari dunia ini dulu. Karena ada hal-hal yang justru bisa kita lihat setelah kita berjarak dengannya. Walau suatu saat nanti pasti akan kecemplung lagi juga, karena organisasi adalah masalah kebutuhan bukan keinginan. Ketika dibutuhkan maka dia ada. Bukan seperti bangsa kita sekarang mengada-adakan laskar-laskar karena keinginan dan kepentingan tertentu. Ketika ada dua organisasi bervisi sama tapi tidak bergabung menjadi satu pasti ada goresan kepentingan disitu, dalam dunia konservasi sama, bahkan dalam organisasi aksi sosial pun sama.

Ohh cacat ohh cacat, tapi biarlah karena ini dinamikanya.

Untuk 2017, ada beberapa pesan dari 2016.


Jangan Mengeluh.

Ini sudah berkali-kali aku tanamkan pada diriku sendiri (masih berusaha). Karena keluhan itu tiada artinya, terutama kepada manusia, oh! Setiap kau mengeluh, atau bahkan mengulang-ulang keluhanmu, sebenarnya apa yang kau cari wahai anak adam? Apakah rasa iba? Ataukah solusi? Karena orang yang pro denganmu akan merasa sedih dan terbebani, dan yang kontra akan tertawa melihatmu. Kecuali keluhan itu merupakan pengantar daripada sebuah pencarian solusi. Selain itu, setiap mendengar keluhan yang tiada ujungnya, lebih baik aku tutup telinga dan melakukan hal lain.

Pembelaan yang sering kudengar adalah keluhan itu tidak untuk ditanggapi, tapi untuk meluapkan saja. Silakan, tapi ada tempatnya juga, ada yang Maha Mendengar dan pasti Maha Menjawab juga atas segala keluhan yang kamu lontarkan.. Tapi kembali lagi, apakah kamu tidak malu?? Mengeluhkan setelah mendapat raga batin dan kesempatan yang tidak semua orang punya? Merindinglah, merasa malulah, begitu kecil dan tidak berdayanya engkau dalam genggamanNya.. Jangan sombong. Sombong bahwa kamu punya masalah berat!

Maka dari itu, tegarlah. Tegarlah terhadap semua masalah. Carilah jalan keluar!


No drama.

Aku tidak terlalu suka drama-drama an dalam kehidupan. Mungkin karena keseringan sehingga aku sedikit sentimen dengan drama yang dibuat-buat, yang bisa dipermudah tapi seringkali dipersulit atas nama perasaan. Kenapa segitu antinya aku dengan drama? karena drama akan muncul sendiri tanpa kita membuatnya, akan ada drama-drama yang lebih sarat makna dan memang dibutuhkan. Seperti drama perlawanan masyarakat Kendeng, Rembang melawan pabrik semen. Terlihat begitu berlarut seperti drama, tapi inilah perjuangan yang sedang mereka lakukan. Tidak seperti drama Kiswinar-Mario, ataupun drama roti Sari Roti yang dibuat-buat, ayolah!

Hidup terlalu pendek untuk berdrama.


Dua di atas merupakan ‘profile’ LINE-ku selama satu semester kemarin, dan memang sejauh ini dua hal itu yang aku jadikan pegangan. Banyak resolusi lain yang harus dan ingin aku gapai selama tahun 2017 ini, belajar nyetir, skripsi, wisuda, dan lebih banyak beajar tentang wildlife, dan lain-lain. tapi biarlah hanya aku dan beberapa orang lain yang tahu, daripada hanya menjadi omongan saja hehe. Bismillah.. 

Intinya di 2017 ini jadilah orang yang bermanfaat, dan semakin  bermanfaat. Lakukan hal baik tanpa berpikir ulang. Ada sebuah kekecewaan di diriku ketika kadang aku masih berpikir dua kali ketika ingin melakukan hal (yang aku anggap) baik. Seperti ketika di perempatan ringroad jakal di tengah malam, saat lampu merah menyala, aku di atas motor melihat seekor ulat berjalan di zebracross, aku berada di barisan pertama. Waktu itu terbesit aku harus memindahkannya segera kalau tidak dia bisa terlindas, tetapi kemudian aku berpikir, ini ramai, tidak akan sempat, aku sedang menggonceng orang, barang bawaanku banyak, aku capai, tengah malam begini. Dan akhirnya aku tidak jadi melakukannya. Entah bagaimana nasib ulat itu tapi memang benar, when there’s good act in first think, you should do that! Semakin dipikir semakin banyak penyanggahan yang akan kamu dapatkan. Lakukan saja hal-hal baik yang memang langsung terpikirkan. Mengucap terima kasih. Menyapa. Salim. Menjenguk teman yang sakit. Memberi sumbangan pada yang membutuhkan. Donor darah. Lakukan hal baik sebanyak-banyaknya, mungkin itu tidak akan membuatmu menjadi orang baik, tapi setidaknya akan membuat dirimu merasa ringan.

yang kedua, masih sama saran dari ibuku, yaitu:

DOBRAK!

Dobrak segala rasa malas dan menunda, bangunlah keteraturan, disiplin, konsisten, istiqomah :) Karena aku yakin kekonsistenan, dalam sikap maupun keseharian, adalah kunci kesuksesan.

Marilah kita buka tahun ini dengan tulisan ini dan foto lucu dari Sukron, anjing bedahku, makhluk diujinya tali pertemanan, yang sekarang sudah diadopsi orang lain.

sukron

Semarang, 2 Januari 2017

Alfian H. Feisal

Wanna discussion? please contact:

alfian.h.feisal@gmail.com | idline: xtumanax | IG: @alfianherditmn

Iklan
0

Terbawa Suasana

Saya sedang terbawa suasana, suasana yang tidak menentu sehingga susah bagi saya untuk mendeskripsikannya. Gelisah, excited, bingung, tapi hanya ada dua hal: harus ada sikap yang diambil dan harus tetap menjalani hidup. It’s okay?

Sedikit saja yang bisa saya ceritakan, tapi haruslah saya berkomitmen untuk semakin memanfaatkan waktu.. seperti kata Ibu saya: “dobrak”

Dobrak.. kata-kata yang kuat menurut saya.. tapi apa saya bisa?

Semoga.

Nyanyi dulu.. nyanyilah

Sementara teduhlah hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara ingat lagi mimpi
Juga janji janji
Jangan kau ingkari lagi
Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Jangan henti disini
Sementara lupakanlah rindu
Sadarlah hatiku hanya ada kau dan aku
Dan sementara akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita ber dua
Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Jangan henti disini
Sementara – Float

Yogyakarta, 8 Desember 2016

Alfian H. Feisal

0

FKH SORE HARI, 151116

Menunggu dipanggil.

Sekarang pukul 17:39 sore hari, saya sedang mengetik ini di depan kelas 102 yang tenang di kampus FKH yang damai ini, lamat-lamat suara adzan maghrib berkumandang dan berdengung dari segala arah.

Belum ada siapapun mendekati masjid An-Nahl tercinta ini, lampu pun belum dinyalakan.

Para praktikan farmako mulai berduyun-duyun turun dari lantai 3 yang sejuk dan katanya berpenghuni, memegang petunjuk praktikum bercover hijau dengan berbagai corat-coret dosis di dalamnya. Mereka berpencar ke segala arah, masuk ke lab lain karena dia juga seorang asisten, masuk ke sekre karena dia anak ukm yang aktif, masuk ke perpus untuk menggarap FGD yang terkesan dipaksakan, dan ada yang pergi keluar, entah ke kos, atau main atau bekerja atau kampanye karena ini musim pemilihan.

Masjid An-Nahl pun mulai mengumandangkan adzannya sendiri. Mahasiswa-mahasiswa yang berada di vega resto mulai terdiam mendengarkan atau menghormati hak mayoritas, kumpul apa mereka di vega? aku pun tidak mencari tahu bukan karena tidak peduli.

para pemain softball porsenigama mulai pulang dan mengambil motor yang di parkir di depan sekre yang katanya hanya untuk karyawan, “kami nggak pernah disupporterin” kata salah seorang pemain tadi siang sebelum berangkat dan menitipkan sesuatu ke aku untuk dibawa ke kelas. Sang kapten baru Andre mengajak makan sayangnya aku barusan makan sehingga kutolak dan dia pergi sambil mencari teman.

Dan khomat pun dikumandangkan. 17:48.

Yogyakarta, 15 November 2016

Alfian H. Feisal

0

Memoar yang Terburu-buru

Halo, Marhaban Ya Ramadhan, tidak kusangka waktu sebegini cepatnya bergulir. Ramadhan telah kembali untuk menyapa kita kembali. Setahun berlalu, walau minus 11 hari. Terasa cepat karena banyak yang harus dikerjakan, tapi terasa lambat karena begitu banyak yang dipikirkan.

Tidak ada topik khusus yang ingin aku bahas disini tidak seperti postingan-postinganku sebelumnya. Aku ingin menulis sesuatu yang ringan saja. Semacam curhatan di H-3 jam UAS Penyuluhan. Sek tak ngecek jadwal dulu. Oiya masih 3 jam.

Mari kita tarik 6 bulan terakhir ini. Merupakan bulan-bulan yang luar biasa bagiku. Setelah di semester 4 aku mencoba semuanya yang berakibat dengan keteteran di bidang akademik yang luar biasa (tapi tidak kusesali itu), semester 5 yang mulai tergopoh-gopoh untuk bangkit kembali dan keajaiban-keajaiban yang ada di dalamnya.

Semester 6 ini aku mulai fokus, seenggaknya ke empat hal ini: Asisten, IMAKAHI, KKN, dan magang.


Asisten

Alhamdulillah semenjak tanggal 25 November 2015, setelah penantian panjang, aku telah dinobatkan sebagai salah satu asisten laboratorium di departemen parasitologi FKH UGM. Aku sangat senang, walau tidak berambisi untuk benar-benar diterima, tapi aku selalu merasa tertarik untuk masuk menjadi bagian dari dept. parasitologi ini. Bahkan satu-satunya foto nonformal antara aku dengan dosen adalah foto bersama bareng drh. Dwi Priyo selaku kepala departemen (penting banget).

Senang iya, namun takut lebih lagi, gugup lebih tepatnya. Karena disini kami akan diberi amanah untuk mengajari adik-adik kami tentang ilmu-ilmu dasar di parasitologi. Berat karena yang namanya memberi ilmu, konsekuensinya besar. Alhamdulillah sepanjang semester ini sudah 2 angkatan yang kami asisteni, D3 2015 dan S1 2015. Kami sama-sama belajar, dan sempat ada yang namanya kesedihan ketika melihat ada praktikan yang kesusahan dalam belajar atau dalam niat.

Asisten adalah pembantu mahasiswa dalam memahami materi yang ada di dalam perkuliahan. Aku mengibaratkan kalau asisten itu seperti guru les. Dan tujuan utama dari asisten adalah membantu praktikan untuk memahami semua materi yang diajarkan. (atau minimal yang dipraktikumkan). Jangan sampai asisten menjadi acuh tak acuh dengan ketidakbisaan praktikan, atau mungkin ketidakrampungan dalam mengerjakan laporan, pasti ada alasan di balik itu. Dan dengan entengnya memberikan nilai yang kurang pada praktikan. Tidak seperti itu, amanah menjadi seorang asisten adalah membantu seorang praktikan hingga bisa, dan membantu menyelesaikan problematika praktikan dalam belajar. Itulah yang disebut dengan asisten. Pembantu.

Walau tetap diakui, asisten memiliki banyak keterbatasan dalam hal waktu dan kuasa. Di akhir, ketegasan dan kebijaksanaan lah yang berperan ketika ada satu dua dari mereka yang memang tidak bisa dibantu lagi.

Lepas dari itu, ruangan asisten merupakan ruangan ternyaman di seluruh jagat FKH, besar dan dingin, dan biasanya penuh dengan makanan. Asistennya, terutama yang 2013, selain aku ada 5 orang lain (Pras, Karlin, Nana, Betrix, Garin) adalah orang-orang super sibuk yang pernah aku lihat. Mereka adalah orang-orang multitalent dengan mobilitas kelewat tinggi sehingga selepas dari ruang lab, melihat mereka berkeliaran di kampus seperti melihat harimau sumatera di habitatnya. Langka.

Nggak deng. So far, sangatlah nyaman berada di lingkungan parasitologi. Sekali lagi, alhamdulillah.


IMAKAHI

Sudah jelas mengapa aku, di tahun ketiga ini, masih berkutat di organisasi. Yah, tentang IMAKAHI ini perlu satu postingan khusus (yang terdiri dari beberapa part) kalau mau diceritakan semua, tapi intinya adalah disinilah aku melihat orang-orang luar biasa, luar biasa bukan karena bisa, tapi luar biasa karena melihat proses mereka dari tidak bisa menjadi bisa. Senang rasanya melihat orang berusaha, dan mau berusaha. Sedikitkan keluhan maka banyak manfaat akan datang.

Yang pasti, menjadi pemimpin adalah sebuah beban.

“Sesungguhnya jabatan, kedudukan, dan tanggung jawab dalam pemerintahan merupakan sebuah kerugian, bukan keberuntungan, pengorbanan, apalagi penyucian. Oleh karena itu, jika ada seseorang yang begitu berambisi untuk mendapatkan posisi tertentu, itu artinya dia tak mengerti akan hakikat tanggung jawab yang begitu berat untuk dipikulnya” -Khalid Muhammad Khalid

Namun perlu dipahami juga, bahwa menjadi ketua adalah eskalator diri menjadi lebih baik, walau tergopoh, jatuh bangun, tapi tetap ada nilai yang berbeda yang nantinya akan di dapat orang yang pernah memimpin maupun yang tidak. Tapi ini semua hanyalah kesempatan, akankah diambil kembali lagi ke pribadi masing-masing.

Yang pasti jika kamu ingin mendapat jabatan agar bisa berbuat, kamu tidak ubahnya para penguasa kita yang main-main dengan tanggung jawab. Kejarlah kontribusi, bukan posisi.


KKN

Secara serentak UGM mengirimkan ribuan mahasiswanya dalam program KKN-PPM setiap tahunnya. Tahun ini salah satu dari ribuan mahasiswa yang dibagi menjadi tim-tim kecil KKN itu adalah aku, dan timku. Aku yang tidak sadar kalau namaku masuk ke dalam tim pengusul ini insyaAllah akan melaksanakan program KKN dimana timku dibagi menjadi tiga sub unit yaitu di Desa Agung Mulya, Rantau Katang, dan Tumbang Mangkup, Kecamatan Telaga Antang, Kabupaten Kotawaringin Timur, di Provinsi Kalimantan Tengah. Aku ditempatkan di Desa Tumbang Mangkup Nation atau biasa disingkat TMN (wowow).

Perjalanan tim KKN ini adalah berat dan panjang, seperti tentang IMAKAHI, aku butuh satu postingan khusus untuk menceritakan proses perjuangan tim KKN KTG02 yang dikormaniti oleh Ahmad Yani dari Fakultas Filsafat ini. Dan itu masih perjuangan dalam persiapan, belum dalam pelaksanaannya nanti.

Rapat program, rapat bersama tim tahun lalu, rapat dengan DPL, rapat kluster, rapat fakultas, rapat sub unit, rapat rapat dan rapat setiap minggu. Gara-gara ini, selain sekre IMAKAHI jadi sekre pertamaku, R. Asisten Parasit jadi sekre keduaku, Pusat Studi Pancasila menjadi sekre ketiga tempat dimana biasanya rapat berlangsung. Bertemu dengan berbagai macam orang, dengan berbagai macam pemikiran dan ilmu karena bekgron kami yang berbeda-beda sangat menyenangkan. Itu baru terkait dengan program, belum lagi perjuangan dana kami jualan ini itu, ada yang tiap hari, atau tiap minggu, jualan hidrogel di Dinas Pertanian atau di Sun*or. Ngetag tempat dari jam 3 pagi. Aku berharap hasilnya nanti tidak mengkhianati proses yang ada, semoga apa yang kita perjuangkan bisa bermanfaat di tempat KKN kita nanti, ya nggak Yan? oi…

Banyak intrik di persiapan KKN UGM 2016 ini, lepas dari pro-kontranya harap dipahami bahwa titik poinnya adalah kita bisa bermanfaat.. ah tidak, terlalu tinggi, bisa belajar bersama dengan masyarakat disana. Di tempat kita mengabdi masing-masing. Percuma berargumentasi nganti cangkeme suwek kalau nanti di lokasi pengabdian masang penanda jalan saja tidak bisa.

Sekedar pengantar untuk KKN, pasti ada banyak cerita setelah ini! (dan yang belum diceritakan)


Magang 

Ah.. ini, magang merupakan investasi jangka panjangku menjadi dokter hewan. Selama tiga tahun kuliah pasti banyak yang berpikir “aku kayak nggak dapat apa-apa”, dan di magang inilah kami belajar bersama secara langsung dari praktik.

Tapi lebih dari itu, untung kami memagangkan diri kami bersama drh. Andre..

Seorang pengusaha sukses dari China (lupa namanya) pernah berkata, 20 tahun pertama umurmu, gunakan untuk belajar sebanyak-banyaknya, lalu sepuluh tahun kemudian, carilah sosok, yang bisa kamu panuti, yang kamu jadikan contoh. Dan beruntung aku magang bersama Mas Andre ini.

Selain ilmu medis, banyak sekali ‘ilmu-ilmu’ yang diajarkan pada kami semua, tentang kehidupan. Seperti kata Edi Mulyono dalam bukunya, manusia sekarang ini menjadi tidak menikmati hidup karena jarang merenung, jarang mengamati manusia-manusia lain di sekitarnya, modernisasi telah melumat apa yang disebut nilai moral.

Disini kita dibuat menunggu untuk menghargai waktu. Dipaksa menahan kantuk, disaat mungkin kawan-kawan kami terlelap, untuk menghargai bahwa ilmu itu susah dicapai. Dan diajak ke tempat-tempat dimana orang-orang tidur di jalanan, untuk lebih bersyukur. Hahaha… walau begitu kami memang murid-murid yang bolot, yang lebih susah diatur ketimbang segerombolan Chihuahua melihat tamu asing.


H-1,5 jam menuju UAS Penyuluhan. Begitulah semester 6 ini, penuh dengan cerita dan derita. Mulai bisa menata waktu, tapi tetap saja ada saatnya, ketika kita mencoba merangkul semuanya selalu ada 3-4 hal yang luput dari genggaman. Selalu ada bunga problem yang mekar dari tanah yang kurang diperhatikan.

Pusing pasti. Lelah pasti. Menderita pasti apalagi aku tipe yang susah berkeluh kesah kepada orang lain. Karena dengan mengeluh, orang yang peduli denganmu akan sedih, dan orang yang tidak suka kau akan senang. Satu-satunya tempat berkeluh kesah ya ke Atas sana, di tengah lelapnya bumi. Tapi.. bisakah bangun jam 2 pagi sekadar untuk bercerita? Itu kembali ke tekad masing-masing.. dan masih kurindu itu, seperti aku merindumu yang kujaga baik dalam angan ini.

Yogyakarta, 6 Juni 2016

Alfian H. Feisal

Wanna discussion? please contact:

alfian.h.feisal@gmail.com | idline: xtumanax | IG: @alfianherditmn

1

Homo sapiens, makhluk paling sombong

Biar hits macam trit tembus pandang di kaskus, bisa sambil dengerin lagu ini

Saya adalah calon dokter hewan, Insya Allah. Namun sepertinya bukan hanya saya saja yang meyakini bahwa semakin saya mendalami objek saya (yaitu hewan) semakin banyak misteri yang muncul. Saya yakin di tengah kemajuan teknologi bukan berarti kita semakin mengerti. Kita mungkin sudah mencapai peradaban dimana kita bisa mengubah virus semau kita dengan teknologi biomolekuler, tapi kita masih belum mengerti secara pasti kenapa anjing suka mengejar kucing.

Secara umum, kita masih belum mengerti bagaimana cara hewan berpikir.

Ketika saya belajar tentang diagnosa klinik, kita mengetahui ‘ekspresi’ hewan dengan mengelompokkannya ke dalam: tenang, agresif, waspada, dan sebagainya. Bagaimana kita tahu? Saya sendiri bisa berpura-pura tersenyum ketika sedih. Ah mana mungkin hewan bisa seperti itu!? Itu persepsi umum, karena kita, Homo sapiens, tidak paham.

Saya membaca buku The Secret of Animal Minds, yang mengisahkan tentang Animal Telepathy, yaitu kemampuan berkomunikasi dengan hewan secara telepati. Sebagian besar buku diisi dengan dialog antara seorang pengguna Animal telepathy dengan hewan-hewan yang menjadi ‘klien’nya. Adapun hal yang sama juga pernah saya dengar ketika magang di TN Way Kambas Lampung, yaitu pelatihan para mahout gajah disana tentang Linking Awareness, sebuah program pelatihan komunikasi kepada makhluk yang tidak bisa berkomunikasi secara verbal, dan di sana dikhususkan pada gajah-gajah di TN Way Kambas. Apabila konsep ini masih terlalu absurd, salah satu contoh konkretnya adalah Temple Grandin, yang mendapatkan gelar Profesor di bidang peternakan Colorado State University, salah satu gebrakannya adalah dengan mendesain suatu jalur khusus bagi sapi potong menuju slaughterhouse. Temple merasa bahwa jalur yang biasa digunakan cenderung memaksa sapi, membuatnya ketakutan dan stres. Dengan desain jalur baru ini membuat sapi yang akan di potong tidak stres dan menghasilkan produk daging yang lebih baik. Desain Temple Grandin ini sekarang banyak diadopsi oleh peternakan-peternakan di seluruh dunia. Darimana ide ini berasal? Temple Grandin sendiri menjelaskan bahwa ide itu muncul karena dia berpikir layaknya seperti seekor sapi. Perlu diketahui bahwa saat masih kecil Temple Grandin didiagnosa autis oleh dokter.

Inti dari tiga contoh di atas adalah sama, kita memerlukan sebuah konsep berpikir baru tentang bagaimana hewan berkomunikasi. Ini seperti meraba-raba di suatu ruangan yang gelap.

Saya punya kucing di kos (sebenarnya kucing liar tapi sering main), yaitu Jantan, Tinna, dan Tinnatu. Si Jantan selalu datang tiap pagi dan malam hari, Tinna datang tiap sore hari, dan ketika saya datang di kos malam hari melihat sepatu di bawah jendela berantakan saya langsung paham itu adalah Tinnatu yang tadi siang mencoba masuk ke dalam kamar berharap ada makanan lalu keluar dengan kecewa karena saya tidak di tempat. Kita sering menggunakan istilah, “awas sapinya yang disana agak galak”, atau “kucingku yang ini manja banget, yang satunya setiap hari tiduran terus di kursi”. Secara tidak langsung kita sepakat bahwa setiap hewan mempunyai kepribadian.


Akhir-akhir ini para animal activist sedang panas, tidak lain tidak bukan karena adanya pertunjukan sirkus lumba-lumba di Kota Malang yang diadakan lembaga konservasi di Jawa Tengah. Singkat kata terciptalah dua kubu, yang sama-sama dari kalangan mahasiswa sendiri, yaitu pro dan kontra. Yang kontra mengkritisi dari aspek animal welfare terkait dengan manajemen, transportasi, hingga jumlah penampilan dalam sehari. Yang Pro berargumen bahwa semua telah mengikuti SOP yang dikeluarkan dari kementerian kehutanan, telah dilegalisasi, dan telah diawasi dari segala aspek oleh yang berwenang.

Sedangkan saya ingin melihat dari sisi lumba-lumbanya itu sendiri, bukan sebagai hewan tetapi sebagai individu yang berkepribadian.

Oke, kalau kamu merasa tulisan saya terlalu absurd tidak berdasar silakan pergi, tetapi kalau tetap ingin stay silakan tetap lanjutkan, karena saya hanya ingin membuka wawasan dari sudut pandang baru :)

Kita yang berada di luar tenda sirkus ini sedang panas, entah panas beneran aksi di jalan, atau hanya jari yang panas karena kebanyakan mencetin keypad di smartphone biar nggak kalah update. Tetapi bagaimana dengan dua (katanya dua) ekor lumba-lumba yang ada di dalam tenda. Apa yang sedang mereka pikirkan, apakah mereka sebenarnya sedih, atau, “it’s fine, we’re okay here!“. Karena kembali lagi, saya berpikir bahwa tiap individu hewan, dalam hal ini lumba-lumba, punya kepribadian singmasing. Kita semua yang beranggapan bahwa lumba-lumba yang di dalam itu ‘sedih’ atau ‘tidak apa-apa’ terkesan egois. Ibaratnya kita melihat seorang anak bermain sepakbola bersama rekan-rekannya yang lebih dewasa, anak itu terlihat tidak pernah dapat operan, lari sana lari sini, jatuh tidak ada yang peduli. Ada yang berpikir anak itu ‘kasihan’, ada yang berpikir ‘tidak apa’, siapa yang benar? yang benar berada di anak itu sendiri. Anak itu bisa berkata, “aku nggak papa kok om! aku seneng!” atau “huaaa aku sedih om gapernah dapat operann :(“. Kasus ini bisa dengan mudah terpecahkan karena si anak dapat diajak berkomunikasi, lalu bagaimana dengan si lumba-lumba? Kita tidak pernah menanyainya, lebih tepatnya tidak bisa. Mungkin perlu diundang seorang dari animal telepathy atau linking awareness untuk menjelaskan kepada kita tentang yang mereka rasakan.

Anggap saja ada dua lumba-lumba yang berbeda, Dorothy dan Alice. Si Alice merupakan lumba-lumba yang ceria, yang memang suka bermain, dan merasa tidak masalah dengan segala urusan sirkus ini karena memang passion dia, karena Alice seekor yang extrovert. Sedangkan Dorothy adalah lumba-lumba yang pemalas seperti saya, dia memang suka melompat dari dalam air tapi dalam kondisi tertentu saja, selebihnya dia lebih suka berada di dalam air, sirkus ini memaksa dia untuk mengeluarkan effort lebih sehingga dia merasa tidak nyaman, sehingga membuatnya kurus. Apabila kita bisa mengetahui semudah ini, maka dengan mudah kita mengetahui mana yang bisa di-rescue mana yang sekiranya bisa dibiarkan saja (sepanjang memenuhi hak-haknya).

Namun disinilah kita, berada di luar itu semua, dengan segala ketidaktahuan dan asumsi kita saling berdebat. Karena kita orang-orang yang sombong, padahal penuh dengan keterbatasan. Kita menentang padahal mungkin si lumba-lumba fine-fine saja, kita mendukung dengan dalih lumba-lumba itu berharga mahal, tidak mungkin diperlakukan semena-mena, masih tetap hidup, tapi bahkan topeng monyet pun menjaga agar monyetnya tetap terlihat baik. Konsep ‘menjaga’ disini merupakan kepentingan bisnis, bukan animal welfare, siapa pula orang yang berjualan dengan barang cacat.


Lalu konklusinya?

Disinilah saya, termasuk orang-orang yang sombong, yang berasumsi, dengan tegas menyatakan bahwa saya MENOLAK adanya sirkus lumba-lumba. Pernyataan sikap saya sepenuhnya dari pemikiran pribadi saya tanpa membawa instansi tertentu terlepas dari segala jabatan saya. Sebagai seorang pemuda yang idealis saya menganggap kedua lumba-lumba itu adalah Dorothy, dan keduanya tidak merasa senang berada di sana.

Saya tidak memerlukan kajian, saya hanya berpegang pada hati nurani saya yang berkata they don’t belong here. Mereka tidak harus berada di darat, tempat mereka di laut, lautan lepas bersama kelompok mereka. Apabila mereka adalah Dorothy maka bahagialah mereka, apabila Alice, maka tetap bermain-mainlah di laut.

Yang kedua, adalah prinsip saya, ketika kepentingan bisnis bersinggungan dengan animal welfare maka uanglah jadi yang pertama. Di sektor manapun, mulai dari farm (kita semua bisa melihat eksploitasi para pabrik ‘hewan’), deforestation, hingga urusan sirkus lumba-lumba ini. Ketika hewan dijadikan properti, barang, maka ada aspek-aspek yang tentu akan hilang.

Dari Abu Abdillah an-Nu’man bin Basyir RA, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah a bersabda, ‘Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang tidak jelas (syubhat), yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barangsiapa yang meninggalkan perkara-perkara syubhat dia telah mencari kebebasan untuk agamanya (dari kekurangan) dan ke-hormatan dirinya (dari aib dan cela), dan barangsiapa yang terjatuh dalam perkara-perkara syubhat dia telah terjatuh dalam perbuatan haram, bagaikan seorang gembala yang menggembala (ternaknya) di sekitar daerah terlarang yang hampir saja dia terjerumus ke dalamnya. Ingatlah, bahwa sesungguhnya setiap raja memiliki daerah terlarang, dan ingatlah bahwa sesungguhnya daerah terlarang Allah adalah perkara-perkara yang diharamkanNya. Ingatlah, bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging; jika baik, maka seluruh tubuh menjadi baik dan jika rusak, maka seluruh tubuh menjadi rusak pula, yaitu hati’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). (Muttafaq ‘alaih: al-Bukhari, no. 52; dan Muslim, no. 1599)

Saya mengatakan semua ini karena saya seorang Homo sapiens yang sombong. Yang sebenarnya sampai sekarang masih mencoba memahami kalian, para hewan, karena itu, maaf kalau ilmu dan kemampuanku belum cukup. Saya terlalu banyak dicekoki mengurusi fisiologi, anatomi kalian. tapi kadang lupa ngasih makan tepat waktu.

Teman-teman semua, tetaplah berjuang.

“If we can’t stop that, if we can’t fix that, forget about the bigger issues. There’s no hope” -Richard O’Barry

Yogyakarta, 6 April 2016

Alfian H. Feisal

Wanna discussion? please contact:

alfian.h.feisal@gmail.com | idline: tumanah | IG: @alfianherditmn

0

Untuk Si Hijau, dari Si Biru

Ada yang membuatku kepikiran sehingga aku menutup film Star Wars yang sedang kutonton, yang bahkan tetap kutonton di sela-sela belajar ujian, yaitu sebuah kenyataan bahwa tahun telah beranjak ke 2016. Mumpung aku pulang magang agak ‘gasik’, yang biasanya hingga jam 3 pagi, ini jam 1 sudah selesai, kuputuskan buat nulis ini sekarang. Because later is never. Sambil ditemani si Jantan, kucingku, di sebelah.

Kata temanku Septyan ada kelompok orang yang suka mengasosiasikan kata dengan warna, dan menurutku 2016 itu hijau, berturut-turut 2013, 2014, 2015 itu kuning, jingga/merah, dan biru. Sekarang si biru telah berganti menjadi hijau.

Iya, 2015 itu telah berlalu, dan kalau disuruh kaleidoskop selama setahun terakhir, ada banyak kisah, ada yang hilang maupun yang pergi, aku rasa semua orang punya versinya masing-masing. Namun bagiku sendiri 2015 adalah tahun yang ajaib. Entahlah, aku tidak menemukan kata lain yang sepadan. Seperti yang dibilang, banyak peristiwa berdatangan, tidak perlu dirinci karena terlalu banyak. Senang maupun malang. Ketika aku berkata bahwa aku mendapat kemalangan di 2015, disitu aku juga ikut bersyukur karena dengan kemalangan aku lebih banyak belajar. Aku tidak suka merepotkan orang lain, karena itu aku tidak suka minta bantuan/pertolongan orang lain, tapi untuk mereka yang membantuku selama 2015 ini, tanpa aku minta, terima kasih sekali. Semoga Allah yang membalasmu karena balasan apapun dariku tidak akan sepadan. Dan ketika aku berpikir tentang kesenangan selama 2015, bersyukur iya, tapi justru aku merasa kecewa, merasa sedih. Bagiku nikmat terbesar adalah ketika kita diberi ‘kesempatan’. Entah yang fundamental, seperti: saya masih diberi kesempatan untuk makan properly, tidur di ruangan, hidup. Atau yang memang sebuah kesempatan: aku masih diberi kesempatan berkuliah di universitas ini (walau sedang ditengah polemik KKN), dan berbagai kesempatan lainnya. Justru, kesedihan terbesarku adalah ketika aku melewatkan kesempatan-kesempatan ini. Kesempatan tidak datang ke semua orang, tetapi mengambil kesempatan yang datang itu hak setiap orang. Aku sering kali banyak mendapat kesempatan, tapi sedikit kali aku manfaatkan itu.

Bolehlah saya berkeluh kesah.


Saya jarang begadang.

Walau semua tulisanku disini ditulis dini hari, tetapi untuk urusan begadang-dibandingkan teman-temanku yang lain-aku pasti berada di posisi paling bontot ketimbang mereka. Jarang sekali aku begadang, baru setelah magang ini aku dipaksa untuk begadang. Tidak peduli sebanyak apapun materi ujian untuk besok, sebanyak apapun tugas yang menanti, jam 10 mataku sudah terantuk-antuk.

Bukan tentang begadangnya sebenarnya, tetapi tentang tekadku sendiri. Ketika aku punya tekad untuk meraih ilmu (bukan meraih nilai, bedakan) aku pasti akan begadang, karena “ilmu tidak akan mungkin didapatkan kecuali dengan kita meluangkan waktu” -Al Baihaqi. Waktu siang sudah tersedot untuk orang lain, dimana kita akan belajar untuk diri sendiri, mengeksplorasi diri, intropeksi diri, untuk berdoa, ya waktu malam. Mereka yang layak diapresiasi dalam memanfaatkan malam hanya tiga: yang membanting tulang tulang untuk keluarganya, mereka yang mencari ilmu demi kemaslahatan orang banyak, dan mereka yang mengucap doa-doa tulus hanya kepadaNya.

Mungkin ini akan menjadi debat dengan orang tua sendiri yang selalu menyarankan tidur cepat (kami sering berdebat akhir-akhir ini, tetapi aku tetap menghormati pendapat mereka). Aku percaya bahwa tidur tergantung kualitas bukan kuantitas, orang-orang besar pendek waktu tidurnya. Habibie hanya tidur 4 jam sehari. Sedangkan aku, tidur berjam-jam, dengan tugas yang terus terpending. Mana ada kuantitas. Yang ada adalah penyesalan setiap kali bangun di pagi hari. Sampai sekarang pun aku masih menyesal, dan entah sampai kapan. Berapa waktu produktif yang seharusnya bisa aku pakai selama ini terbuang sia-sia.

Saran 1 dari Biru ke Hijau: Perbanyak begadang


Disiplin (Eco is Oke)

Bisa begadang, bisa bangun pagi untuk Shalat tahajud pun termasuk disiplin. dan kembali lagi: tekad yang kuat, dasar yang kokoh, mental yang mantap. Tapi bukan itu lah yang mau dibahas.

Maaf, untuk bahasan ini agak panjang, karena sudah lama di pikiranku tapi tidak sempat tertuang.

Sebuah fenomena mulai merebak, yaitu gerakan untuk menjadi vegetarian, vege. Beberapa teman-temanku ada yang melakukannya, entah hanya masa trial, atau permanen. Ada yang beralasan untuk menghentikan eksploitasi hewan, ataupun untuk diet semata. Aku sendiri tidak pernah mengritik gaya hidup mereka, itu terserah mereka, asal mereka tidak menyuruh anjing/kucing mereka menjadi vegetarian juga. Namun aku punya pemikiran tentang ini.

Aku termasuk orang yang memahami bahwa manusia lebih ke arah herbivora ketimbang karnivora, karena struktur gigi maupun panjang usus kita. Secara anatomis kita diberi tahu kalau gigi kita lebih mirip sapi ketimbang kucing. Namun bukan berarti manusia tidak diperuntukkan untuk memakan meatproduct sama sekali. Para golongan ekstrimis berkata bahwa hewan diciptakan untuk hidup secara harmoni dengan manusia, tidak dalam hubungan predator-mangsa. Tetapi aku berdalih, bahwa beberapa hewan memang diciptakan untuk dimanfaatkan (tenaga, rambut, susu-dan termasuk-daging), aku seorang muslim, dan dalam beberapa ayat Al Quran disebutkan demikian. Lalu selanjutnya apa? Aku percaya bahwa Islam adalah agama paling sempurna, segala urusan telah diatur, diatur bukan untuk mengekang, tetapi kita diberi guide book untuk dimanfaatkan sebaik mungkin selama berteduh di bumi yang sementara ini.

Kompensasi dari diperbolehkannya manusia memanfaatkan hewan-hewan untuk dimakan adalah ditetapkan apa yang halal dan haram untuk dimakan, silakan makan yang telah ditetapkan halal bagimu, dan hindari yang haram. Haram per spesies (Babi, anjing), maupun haram karena proses matinya (terjatuh, diterkam), dan masih banyak lagi. Setelah menentukan yang halal, lalu makanlah yang thayyib (baik) bagimu, ini sifatnya individual. Aku makan kambing tidak masalah, tapi bagi orang dengan penyakit hipertensi ya dibatasi karena tidak baik baginya.

Beberapa bulan ini di Jogja digembar-gemborkan dengan sebuah tagline ‘DOG ARE NOT FOOD’ terkait merebaknya penjaja daging anjing yang makin banyak, bahkan katanya sudah merebak rumah potong anjing di Jogja. ‘DOG ARE NOT FOOD’, untuk muslim ketika ditanya kenapa, jawabannya simpel, “najis”. Jelas, ada dasar, selesai urusan. Tetapi tidak semuanya semudah ini. Banyak alasan menyeruak, diantaranya ancaman penyakit hewan menular strategis (PHMS) seperti rabies dan dirofilariasis, mengecam keserakahan manusia, hingga jawaban paling simpel, “anjing kan lucu”. Namun justru alasan terakhir ini yang sering dijadikan tameng ketika ditanya mengapa menolak daging anjing. Menurutku itu alasan yang tidak masuk akal, ketika aku beranggapan sapi itu lucu (memang lucu sih) bukan berarti aku berhak memprotes para tukang jagal sapi. Timing aku berhak dan layak protes adalah ketika aku melihat sapi-sapi ini dibunuh dengan cara yang tidak benar, atau diperlakukan secara semena-mena. DISINILAH letak atau celah dari protes itu seharusnya, aku tidak mempermasalahkan pemanfaatan daging anjing untuk konsumsi selama mereka diperlakukan sesuai animal welfare sampai akhir hayatnya. Karena kita tahu proses dari pembunuhan anjing ini yang patut disorot, karena ada anggapan kalau anjing dibunuh jangan sampai keluar darahnya nanti tidak enak rasanya, sehingga cara membunuhnya pun bermacam, ada yang dipukul dengan batu, ditenggelamkan dalam air, digantung, dan masih banyak lagi. Mereka pun terkadang ngawur, asal ada anjing lepas di jalan, diambil saja untuk disantap. Kalau begitu caranya, tidak hanya anjing, sapi yang ‘tidak lucu’ dan memang hewan konsumsi pun pasti diprotes.

Balik lagi, lalu untuk hewan yang halal dan thayyib, memang ada SOP untuk membunuhnya? Tentu, dalam Islam semua telah diatur tata caranya, di-restrain dan handling dengan baik, jangan dipotong di depan temannya, disembelih dengan memotong tiga saluran, dan masih banyak lagi (silakan cari!). Dan ternyata ‘pembunuhan’ dengan cara Islam secara ilmiah telah diteliti mempunyai tingkat stress paling rendah. Tingkat stress akan berpengaruh pada proses rigormortis hewan (proses kimiawi daging hewan pasca penyembelihan) tersebut, yang intinya, daging terbaik akan didapat pada hewan dengan tingkat stres terendah pada saat pembunuhan. Terbukti, toko daging dengan penyembelihan ala Islam jauh lebih disukai di luar negeri.

Tentu, bukan berarti ketika hewan itu halal dan thayyib kita kemudian bebas melakukan eksploitasi besar-besaran. Allah SWT tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan dan yang melampaui batas. Sedangkan kita lihat, overfarming, overfishing, dan pemanfaatan secara berlebihan ini akan menjurus ke berbagai arah, mulai dari pembunuhan hewan-hewan yang sekenanya karena untuk memenuhi target yang dibutuhkan, pemanfaatan bagian2 sisa yang tidak layak, penambahan antibiotik2 tertentu sebagai growth promoter, memaksa hewan menjadi kanibal (Meat bone meal) yang memunculkan penyakit baru tak tersembuhkan (mad cow). Dampak luasnya adalah penggunaan lahan besar-besaran untuk ternak, deforestasi hutan, kepunahan satwa, ocean dead zone. Limbah ternak juga menyebabkan polusi air dan lingkungan, gas metan dari perut sapi, yang jumlahnya sedikit tapi diakumulasi oleh milyaran sapi di seluruh dunia, membawa masalah baru bagi umat manusia: global warming. Ujung dari semua ternak ini akan masuk ke satu corong: perut manusia. Dari perut manusia, semua kesakitan tubuh berasal. Dari perut manusia jugalah, semua kerusakan bumi berasal.

Mens sana in corpore sano. Aku ingin menjadi pemimpin-minimal untuk diriku sendiri sekarang-dan pemimpin yang baik adalah dia yang punya jiwa yang sehat, sedang jiwa yang sehat pun butuh tubuh yang kuat dan sehat pula. Itulah yang mendasariku di paruh akhir tahun 2015 ini mengusung tagline ECO is OKE, semacam life project untuk diriku sendiri.

Semua ini diawali oleh kesadaranku untuk mulai memilah dan memilih makanan yang baik bagiku, aku sedikit demi sedikit mulai belajar tentang food choosing, food combining. Mulai mempelajari tingkat asam basa di makanan. dan semua ini dipererat pengalamanku di Desa Banyuroto, Magelang akhir September lalu saat acara PPB #9.

Saat itu ada semacam Live in di Desa Banyuroto, Magelang, desa di kaki Gunung Merbabu, kebanyakan masyarakatnya bercocok tanam. Suatu ketika ada acara malam, aku mencoba mengobrol dengan salah seorang warganya disana, aku heran, kenapa setiap rumah disini selalu mempunyai sapi di belakang rumahnya, entah satu atau dua. Bapak itu menjawab (In javanese of course): “Bukan buat dijual nak, ya itu biasa setiap rumah punya 1-2 ekor sapi. Ya nantinya bakal disembelih kalau ada momen-momen khusus, kayak lebaran kambing besok, atau lebaran kemarin, kalau ada acara-acara khusus, kami potong sapi-sapi itu”. Aku jadi terhenyak, mereka benar-benar mencukupkan diri, mereka makan dari apa yang mereka tanam, dari apa yang mereka punya. Anak-anak disana berlarian sambil makan tomat segar. Mereka memanfaatkan alam. Sayur dan bibit tanaman disana sangat murah. Ketika rupiah melemah, mungkin yang paling vokal dalam memprotes adalah orang-orang yang justru paling sering menggunakan barang import, tapi mereka mengatasnamakan rakyat yang-mungkin-tidak benar-benar merasakan dampaknya. Karena mereka selama ini tidak pernah mengambil melebihi yang mereka butuhkan. Inilah kearifan lokal masyarakat kita.

Kesan ini menancap kuat. Setelah aku berusaha menghindari makanan dan minuman olahan, aku pun beranggapan satu-satunya jalan untuk memastikan kebaikan apa yang kita makan adalah dengan membuat makanan sendiri. Karena itu nantinya aku cari istri yang harus dan mau untuk memasak di rumah. Kita olah sendiri apa yang akan masuk ke kita. Selain dari dua tonggak utama Eco is Oke: konsumsi, kesederhanaan. Selain itu adalah: Keuangan. Aku berharap dengan menerapkan ini aku bisa lebih menghemat uang-uangku.

Tapi proyek ini hancur lebur karena pengeluaran yang tak terkendali dan ricecooker yang rusak. Hingga saat ini belum terlaksana secara penuh. Harapannya ketika aku benar-benar menerapkan semua ini, aku jadi lebih bisa menjadwalkan segala kebutuhan diriku, karena ciri orang sukses adalah dia konsisten, dan kunci dari konsisten adalah disiplin. Dan disiplin adalah bagaimana kita bisa menyelaraskan pola-pola yang ada, pola makan, pola tidur, dan sebagainya.

Saran 2 dari Biru ke Hijau: Hidupkan Eco is Oke


Lamban berpikir

Aku mengakui bahwa aku termasuk orang yang tidak pintar. Aku sering mendengar orang mengeluarkan statement itu, yaitu lemah di teori, tapi ternyata mereka cepat dan taktis di hal-hal teknisnya. Sedangkan aku, masih lambat berpikir, teori maupun teknisnya. Aku masih heran dengan orang yang bisa mengait-ngaitkan satu dan lain hal di saat yang bersamaan, berpikir mereka cepat. Pasti mereka banyak latihan, pikirku, tapi aku berlatih pun, sama saja. Demikian dengan pikiran kritis, dan daya ingat. Keduanya masih absen di dalam diriku. Ingat, aku masih berumur 4 tahun (baca: empat tahun). Aku mungkin tidak dilatih selama itu sebelumnya.

Semua ini aku rasa karena aku mempunyai comfort zone, yaitu kostku sendiri. Sebagai introvert aku mempunyai mekanisme pengolahan data: menampung segala informasi lalu mengolahnya belakangan. dan seharusnya aku mengolah segala sesuatu yang terjadi hari ini ketika aku tiba di kosanku. Sebenarnya semua akan berjalan dengan lancar kalau saja aku tidak punya sifat, malas. Selama aku punya sifat ini, begitu aku masuk ke comfort zone-ku, rasa malas inilah yang akan paling berkuasa terhadap diriku dibanding yang lain, aku tidak bisa begadang, tidak bisa disiplin, dan sekarang menjadi lamban berpikir karena malas ini. Malas memang akar dari setiap masalahku. Ibaratnya tidak bisa begadang dll itu setan, maka malas ini adalah Iblis Laknatullah yang merupakan induk dari semua-muanya. Memang dengan menumpasnya semua akan mudah, tapi perlu strategi, yaitu dengan step by step. Dia musuh alamiku, tidak bisa sembarangan, atau aku yang akan semakin kalah.

Saran 3 dari Biru ke Hijau: Banyak ngobrol dan berdiskusi, ngontrak rumah.


Kaku

Jutaan tahun yang lalu, bersatuan (karena tidak sampai puluhan dan belasan, tapi tetap banyak) orang menganggapku tidak peka. Oke. Aku terima itu, dengan kemudian aku belajar untuk menjadi lebih peka dengan orang lain. Hingga akhirnya-menurut parameterku sendiri-aku sudah cukup peka. Aku tahu orang ini sedang kesal, sedih, marah, maupun senang.

Tapi satu hal telah menggangguku, kembali, aku baru anak usia 4 tahun. Dan karena aku memang dasarnya kikuk, aku sering kali bingung harus berbuat apa:

“Dia sedang sedih apa yang harus aku lakukan” | “Dia sedang marah, what should I do” | “Dia sedang senang, njuk aku kon ngopo” dan situasi-situasi lain yang pada kenyataannya jauh lebih complicated dari apa yang kita dapat bayangkan. Lalu, akibat dari ini adalah seringkali aku salah reaksi, dan lebih sering lagi orang-orang di sekitarku yang lebih salah paham tentang reaksiku. Karena itu aku pernah memakai quotes di makam Soe Hok Gie, sebagai Profil Pictureku:

Nobody can see the problem I see, nobody knows my sorrow.

Hahaha! Lalu berkaitan dengan ini adalah, memang benar adanya, wanita adalah sumber dari fitnah dunia. Ekspektasi mereka, gosip-gosip yang mereka sebarkan, dan geliat mereka membuatku merinding. Membuatku terpana dan bertanya-tanya sehingga akhirnya membuatku menjadi masa bodoh. Mereka jauh lebih pintar menyembunyikan perasaan mereka ketimbang agen CIA menyimpan dokumen-dokumen negara.

Saran 4 dari Biru ke Hijau: Entahlah, berdoa saja kepada Allah SWT.


Demikian, sebenarnya ada lagi yang ingin aku sampaikan tapi ini sudah jam 6 pagi, sudah lupa. Mungkin suatu saat akan teringat lagi, dan beberapa informasi diatas yang perlu sumber legal mungkin bisa kusitasikan (kalau perlu sih). Yang pasti, sekarang biru telah berganti hijau.

Akhir kata, ya, kepada siapapun yang sedang membaca ini, aku harap kamu mengalami tahun 2016 yang menakjubkan. Aku tau, pertarungan terbesar, konflik terlama, adalah dengan diri sendiri. Tapi semakin kamu bertarung dengan diri sendiri, semakin kamu goes nothing. Perangilah dirimu, dengan membantu orang lain. Somehow semua akan kembali. Entahlah, hanya saran dari seseorang yang masih terus berperang di dalam dirinya, karena semakin kamu berkutat dengan dirimu sendiri, kamu nggak akan bangkit dari keterkungkunganmu di dalam pikiranmu.

Hari ini aku tidur kurang dari dua jam, bukan untuk menyaingi Habibie, tapi untuk menyaingi diri sendiri. Hanya diri sendirilah, yang pantas untuk dilampaui.

mtfbwy.gif

May the force be with you

Yogyakarta, 2 Januari 2016

Alfian H. Feisal

Wanna discussion? please contact:

alfian.h.feisal@gmail.com | idline: tumanah | IG: @alfianherditmn

2

Mengusap Debu #1: Catatan Seorang Pria Berumur 4 Tahun

“If I waited till I felt like writing, I’d never write at all.” -Anne Tyler

Begitulah, kalau saja aku menunggu untuk mendapat mood yang pas buat menulis, maka bisa saja selamanya blog TOOMANA (TMN) ini tidak ter-update lagi. Sebelumnya, tentang tulisanku bertema kedokteran hewan, aku berterima kasih kepada semuanya atas segala apresiasinya :) Tapi semenjak tulisanku lima bulan lalu itu, blog ini jadi penuh sawang, jadi berdebu saking lamanya dianggurin. Bukan berarti aku nggak nulis, aku nulis, beberapa, tapi kebanyakan cuma jadi draft saja di sini. Lagian ada saja sesuatu yang bikin ngetik jadi terhenti, wifi yang tiba-tiba disconnect, halaman yang reload sendiri (jadinya semua yang ditulis hilang), sampai suara ting ting ting waktu habis pertanda aku harus keluar dari perpus (ketahuan ngenet minjem wifi kampus). Maka dari itu, tujuan utama tulisan ini adalah untuk mengusap debu di blog ini saking lamanya tidak dipakai. Sekalian untuk mengingatkan, bahwasanya aku masih menulis sampai sekarang, bukan hanya seorang penulis karbitan yang sekali muncul lalu menghilang (padahal iya).

Aku nggak menulis tentang kedokteran hewan lagi, untuk sementara ini. Apalagi sekarang mulai banyak teman-teman kolega yang mulai membuat artikel tentang dokter hewan, sebenarnya ini rawan buat masyarakat. Rawan profesi dokter hewan jadi makin terkenal dan diminati. Hahaha gayane pol.

Aku enggan menulis tentang sesuatu yang belum aku kuasai/mengerti, maka dari itu aku ingin menulis tentang sesuatu yang dekat saja, yaitu diriku.

#1 Aku: Berumur empat tahun

Kurang dari sebulan kemarin aku berulang tahun yang ke-20, di momen itu aku sempatkan untuk merefleksikan diri, begitu kira-kira istilahnya. Seekor sapi Frisian Houlstein dapat menghasilkan puluhan ribu liter susu selama 20 tahun, sebatang pohon trembesi (Samanea saman) dapat menghisap ratusan ribu ton karbondioksida selama 20 tahun, Lalu apa yang sudah seorang Alfian lakukan selama 20 tahun ini? menurutku ini bukan pertanyaan yang berlebihan, banyak kenalanku sudah memulai merintis usaha mereka, eksis dengan band atau karya mereka, maupun menghadirkan piala-piala kemenangan di rumah-rumah mereka, tapi nyatanya aku belum, bahkan menghadirkan satu piala pun tidak. Lalu aku kembali bertanya: kenapa belum? tapi serius, pertanyaan ini tiba-tiba memenuhi ruang dan waktuku, mendesak-desak minta dijawab.

Aku pun terus berpikir, mencari jawaban. Hingga suatu saat ketika aku sedang membereskan lemari, aku menemukan beberapa majalah intrasekolah waktu di SMA (DwiAdisma namanya-nyoh tak promosikke), dan di dalamnya, tidak hanya satu majalah, tetapi beberapa majalah memuat komik buatanku. Aku jadi teringat, dulu aku rutin men-submit komik buatanku, demi upah 20rb per komik. Ada empat komik yang dimuat sehingga selama tiga tahun aku bersekolah, aku sudah menghasilkan uang 80rb. Lalu dibalik sebuah container box, aku baru ingat aku menempelkan di dinding sebuah potongan koran KOMPAS yang di halaman itu ada komik buatanku yang dimuat, nggak dibayar, tapi waktu itu aku begitu bangga dengan pemuatan komikku tersebut. Lagi, ketika aku membereskan kertas yang bercecer di dalam laci lemari, ternyata itu adalah komik buatanku Akibat Bata, atau Akibata. Yang sempat booming di KASKUS, hingga mencapai 7 thread bersambung, dan sempat ditawari penerbit untuk diterbitkan namun kutolak dengan alasan akan di redraw (digambar ulang oleh orang lain), tetapi sekarang aku menyesal karena komik Akibata akhirnya berhenti di tengah jalan karena aku malas :( Lalu aku ingat kembali, ini lho yang aku lakukan dalam tahun-tahunku selama ini. Nggak tanggung-tanggung, aku menggambar komik sejak TK hingga SMA, tanpa henti. Makanya, ketika aku menarik memoriku maka aku selalu ingat hidupku selalu aku kaitkan dengan komik, malam minggu yang berarti bisa membuat komik dengan halaman lebih banyak, aku pula orang yang tidak pernah mengeluh liburan yang terlalu panjang, tidak pernah sekalipun merasa jenuh ketika berada di rumah, karena aku selalu menggambar menggambar dan menggambar. Duniaku untuk membuat komik, dan membuat komik untuk diriku sendiri. Itu merupakan rutinitas harianku selama sekitar sepuluh tahun lamanya.

2011. Itulah turning point-ku, ketika aku nyaman dengan segala rutinitasku, maka secara berbondong-bondong datanglah berbagai peristiwa (mari kita bahas lain waktu) yang membuatku tercerabut dari zona nyamanku, yang membuatku merasakan sedikit ‘kepingan’ dari dunia di luar komik dan gambar. Aku jatuh. Terjerembab. Karena tidak punya pengalaman apa-apa. Dan di masa itulah aku membuat beberapa prinsip dan keputusan besar dalam hidupku. Aku seperti merasa ditempeleng, disadarkan, bahwa hidup tidak sekadar menggambar. Di tengah aku yang sedang merasa asing dan kebingungan dengan situasi yang ada, akhirnya bertemu dengan seorang pria yang akan mengubah gaya pandangku, pria yang telah mati 46 tahun yang lalu di lereng Gunung Semeru, dia adalah Soe Hok Gie. Sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana telah memperkenalkanku dengan dia lewat film GIE.

Setelah menonton film Gie, aku merenung, beberapa kalimat dalam film itu begitu memorable bagiku, seperti: “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda..” Ini adalah kalimat yang saat itu bagiku sangat asing, aneh, tidak pernah kutemukan kalimat seperti ini di komik manapun. Disisi lain aku merasa kata-kata ini memikat, dan amat puitis. Saat itu, aku sama sekali tidak paham artinya, tersirat maupun tersurat. Aku hanya penasaran dengan sosok Gie ini, dan mulai kepo tentangnya di internet, bukunya sendiri-Catatan Seorang Demonstran-baru bisa aku dapatkan dua tahun kemudian di Jogja. Akhirnya, makin mencari makin aku mengenal siapa dia, and I just like, “Dude, this man is so awesome!”.  Soe Hok Gie, seorang humanis mutlak, telah memperlihatkanku sebuah dunia yang berbeda dengan yang selama ini aku kenal. Sewaktu waktuku hanya untuk menggambar dulu, aku begitu apatis, tidak pernah peduli dengan hal-hal sekitar. Aku dulu membaca novel Laskar Pelangi hanya sebagai bacaan yang bagus, bukan sebagai sebuah narasi tentang perjuangan memperoleh pendidikan di tengah keadaan yang sukar. Semua hal hanya terlewat saja. Tapi kemudian Gie-lah yang membawa kunci untuk membuka perspektif-perspektifku akan berbagai hal, yang kemudian mengenalkanku tentang integritas, kepemimpinan, soft skill, hingga tentang impian. Saking besarnya pengaruh Soe Hok Gie pada diriku, aku sampai membagi hidupku dalam dua fase, yaitu fase (1) Sebelum bertemu Soe Hok Gie, dan fase (2) Setelah bertemu Soe Hok gie. Tak berlebihan, karena begitu kontrasnya jalur hidup yang aku lewati sebelum dan setelah aku bertemu Gie.

Sekali lagi, itulah turning point-ku, dimana aku dileburkan dan dibentuk kembali, reborn. Karena itu, walau secara de jure maupun de facto aku dilahirkan 20 tahun yang lalu, tetapi dalam empat tahun ini lah, aku benar-benar menikmati waktuku. Apa yang sudah aku lakukan empat tahun ini, sebenarnya sudah melampaui apa yang aku lakukan 16 tahun sebelumnya.

Entah itu bisa disebut jawaban dari pertanyaanku-apa yang sudah aku lakukan selama 20 tahun ini-atau tidak, tetapi aku tidak bisa menemukan jawaban yang lebih masuk akal ketimbang ini: “No sir, I’m just 4 f*cking years old boy!”

GIE

30 Juli 2015, Alfian H Feisal

Wanna discussion? please contact:

alfian.h.feisal@gmail.com | idline: tumanah | IG: @alfianherditmn