Untuk Si Kuning, dari Si Biru

Untuk Si Kuning, dari Si Biru

Assalamualaikum wr wb.

Sambil dengerin band yang telah tutup usia

Aku termasuk orang yang sedikit mempunyai Synesthesia, yaitu dapat mengasosiasikan warna ataupun huruf (dan jamaknya) dengan warna, seperti aku melihat 2015 dengan warna biru, 2016 dengan warna hijau. Dan sekarang dari hijau sudah melompat ke warna kuning, kuning cerah, 2017.

Paling asyik adalah melongok kebelakang, dalam momen kaleidoskop selama 2016. 2016 jelas tahun yang luar biasa, dimana aku mulai bangkit dari keterpurukanku di 2015-walau dalam beberapa aspek masih banyak yang perlu diperbaiki lagi-dan mulai menata diri, banyak hal baru dan amanah yang telah diemban, menjadi asisten laboratorium, menjadi Penanggung Jawab PC IMAKAHI UGM. Mendaftar dan mengikuti seluk beluk penuh drama dari KKN, mulai dari sebelum, selama KKN (aku harus mempunyai rubrik khusus tentang Desa Tumbang Mangkup tempatku KKN) hingga paska KKN.

Aku selalu mengatakan ini setiap menulis

“Banyak hal terjadi, tapi begitu sedikit yang aku tuliskan”

Memang. Tidak mungkin semua hal menarik yang aku alami, lihat, dan rasakan bisa aku tuliskan semua. Tetapi seharusnya aku lebih sering menulis. Ketika aku buka buku catatanku selama 2016 sangat sedikit yang aku torehkan dibanding tahun-tahun sebelumnya, kebanyakan karena aku terlalu sibuk, atau merasa sibuk, jadi ketika ada hal-hal menarik yang harusnya aku tulis semua berlalu begitu saja tanpa sempat aku tuliskan.

Sebuah penyesalan bagiku, rasanya, aku setuju dengan tulisan Edi Mulyono dalam kompilasinya “Kisah Pilu Manusia Kekinian” yang menerangkan bahwa sekarang hidup manusia itu surut akan makna, tidak sarat dengan kehidupan. Kebebasan bermedia sosial telah membuat manusia menuju level paling pragmatis, nulis tinggal post, guyon tinggal post, mengritik tinggal post, dan share share share tanpa melihat makna yang ada di dalamnya. Betapa mudahnya seseorang menyampaikan gagasan dan betapa mudahnya torehan like ada di tulisan mereka. Tapi kemudian kita berpikir lagi? akan ditaruh kemana arah tulisan-tulisan ini, manusia zaman sekarang (terutama akhir-akhir ini) sudah terkikis otak berpikirnya, sepertinya otak mereka sudah mengalami infark dan bukan hanya kekurangan oksigen tetapi pun juga kekurangan akal sehat. Dalam tulisannya, Edi Mulyono menjelaskan bahwa ada satu bagian penting dalam hidup manusia yang mulai hilang, yaitu ‘merenung’. Merenungi tentang hikmah yang ada di hari ini, rezeki yang didapat hari ini, tantangan hari esok, and so on. Mulai hilang, budaya merenung ini, karena setiap kali merasa merenung dengan mudahnya akan dituliskan di akun medsos ketimbang di hati untuk diproses lebih dalam lagi.. Bukan berarti aku iri ataupun tidak terima bukan, tetapi budaya merenung inilah yang memang dibutuhkan sebagian bangsa ini.

Sudahkah benar tingkah lakuku ini? Apa yang aku bawa? Apa yang aku ucapkan?

Kata Bapak Erie Sudewo, manusia ditentukan oleh 2K, Kompetensi dan Karakter.

Kompetensi membuat kita selalu meningkat, tetapi karakter membuat kita semakin masuk, semakin merasa kerdil, semakin tidak tahu apa-apa.

Maka dari itu aku agaknya sedikit menyesal mengapa aku jarang menulis, karena tulisanlah mediaku merenung, karena aku tipe yang ‘ngawang’, yang jikalau tidak menuliskan yang aku pikirkan maka akan berlalu begitu saja.

Ada banyak emosi di 2016 ini, especially, untuk organisasi(ku) IMAKAHI, bertemu begitu banyak orang dan tokoh, mendapat sokongan atau kecaman, dan dalam beberapa titik telah memaksaku untuk melewati batasku. Beberapa wawasanku mulai terbuka bahwa profesi ini tidak hanya tentang menyuntik sapi, tidak hanya tentang memeriksa sampel darah. Namun lebih kompleks dari itu, karena manusia memasukkan berbagi macam permasalahan. Mulai dari kejayaan profesi, hingga permasalahan yang dilakukan oleh oknum dokter hewan. Aku memasuki dunia penuh dengan berbagai kepentingan, aku yang cupu yang tidak mengerti dengan perpolitikan (dalam makna luas) pun juga berusaha untuk berhati-hati hingga akhirnya jabatan ini lepas 10 Desember kemarin.

Apakah beban sudah terangkat? Tentu. Tapi tidak juga, masih ada beberapa tanggungan yang belum bisa aku lepas seluruhnya, terutama adalah tanggung jawab untuk turut mendampingi pengurus baru untuk setahun ke depan. Tapi itu memang tekadku sejak awal.

Kadang aku berpikir, organisasi adalah sektor atau bahkan ekosistem yang paling menarik untuk dicermati, sumber solusi (niatnya) tapi kebanyakan justru seringkali menjadi sumber permasalahan. Beda kepala beda pemikiran. Inilah yang membuat organisasi menjadi ruyam, tapi juga itulah mengapa organisasi dibutuhkan. Karena selama manusia hidup mereka butuh sebuah struktur dan sistem untuk mengorganisir. Tapi sistem adalah buatan manusia, penuh kecacatan dari nalar berpikir kita yang pendek, sehingga intrik seringkali terjadi. Kadang bahkan visi yang dibawa organisasi jadi hilang karena organisasi itu sendiri, banyak macam banyak cerita. Aku pun salut pada mereka yang rela berkorban sebanyak itu demi organisasi. Maka dari itu aku menulis buku Organisasi Tidak Pernah Mati (on progress) dari sudut pandangku yang masih amat sempit ini.

Sudah cukup dengan organisasi, aku harus mentas (keluar-red) dari dunia ini dulu. Karena ada hal-hal yang justru bisa kita lihat setelah kita berjarak dengannya. Walau suatu saat nanti pasti akan kecemplung lagi juga, karena organisasi adalah masalah kebutuhan bukan keinginan. Ketika dibutuhkan maka dia ada. Bukan seperti bangsa kita sekarang mengada-adakan laskar-laskar karena keinginan dan kepentingan tertentu. Ketika ada dua organisasi bervisi sama tapi tidak bergabung menjadi satu pasti ada goresan kepentingan disitu, dalam dunia konservasi sama, bahkan dalam organisasi aksi sosial pun sama.

Ohh cacat ohh cacat, tapi biarlah karena ini dinamikanya.

Untuk 2017, ada beberapa pesan dari 2016.


Jangan Mengeluh.

Ini sudah berkali-kali aku tanamkan pada diriku sendiri (masih berusaha). Karena keluhan itu tiada artinya, terutama kepada manusia, oh! Setiap kau mengeluh, atau bahkan mengulang-ulang keluhanmu, sebenarnya apa yang kau cari wahai anak adam? Apakah rasa iba? Ataukah solusi? Karena orang yang pro denganmu akan merasa sedih dan terbebani, dan yang kontra akan tertawa melihatmu. Kecuali keluhan itu merupakan pengantar daripada sebuah pencarian solusi. Selain itu, setiap mendengar keluhan yang tiada ujungnya, lebih baik aku tutup telinga dan melakukan hal lain.

Pembelaan yang sering kudengar adalah keluhan itu tidak untuk ditanggapi, tapi untuk meluapkan saja. Silakan, tapi ada tempatnya juga, ada yang Maha Mendengar dan pasti Maha Menjawab juga atas segala keluhan yang kamu lontarkan.. Tapi kembali lagi, apakah kamu tidak malu?? Mengeluhkan setelah mendapat raga batin dan kesempatan yang tidak semua orang punya? Merindinglah, merasa malulah, begitu kecil dan tidak berdayanya engkau dalam genggamanNya.. Jangan sombong. Sombong bahwa kamu punya masalah berat!

Maka dari itu, tegarlah. Tegarlah terhadap semua masalah. Carilah jalan keluar!


No drama.

Aku tidak terlalu suka drama-drama an dalam kehidupan. Mungkin karena keseringan sehingga aku sedikit sentimen dengan drama yang dibuat-buat, yang bisa dipermudah tapi seringkali dipersulit atas nama perasaan. Kenapa segitu antinya aku dengan drama? karena drama akan muncul sendiri tanpa kita membuatnya, akan ada drama-drama yang lebih sarat makna dan memang dibutuhkan. Seperti drama perlawanan masyarakat Kendeng, Rembang melawan pabrik semen. Terlihat begitu berlarut seperti drama, tapi inilah perjuangan yang sedang mereka lakukan. Tidak seperti drama Kiswinar-Mario, ataupun drama roti Sari Roti yang dibuat-buat, ayolah!

Hidup terlalu pendek untuk berdrama.


Dua di atas merupakan ‘profile’ LINE-ku selama satu semester kemarin, dan memang sejauh ini dua hal itu yang aku jadikan pegangan. Banyak resolusi lain yang harus dan ingin aku gapai selama tahun 2017 ini, belajar nyetir, skripsi, wisuda, dan lebih banyak beajar tentang wildlife, dan lain-lain. tapi biarlah hanya aku dan beberapa orang lain yang tahu, daripada hanya menjadi omongan saja hehe. Bismillah.. 

Intinya di 2017 ini jadilah orang yang bermanfaat, dan semakin  bermanfaat. Lakukan hal baik tanpa berpikir ulang. Ada sebuah kekecewaan di diriku ketika kadang aku masih berpikir dua kali ketika ingin melakukan hal (yang aku anggap) baik. Seperti ketika di perempatan ringroad jakal di tengah malam, saat lampu merah menyala, aku di atas motor melihat seekor ulat berjalan di zebracross, aku berada di barisan pertama. Waktu itu terbesit aku harus memindahkannya segera kalau tidak dia bisa terlindas, tetapi kemudian aku berpikir, ini ramai, tidak akan sempat, aku sedang menggonceng orang, barang bawaanku banyak, aku capai, tengah malam begini. Dan akhirnya aku tidak jadi melakukannya. Entah bagaimana nasib ulat itu tapi memang benar, when there’s good act in first think, you should do that! Semakin dipikir semakin banyak penyanggahan yang akan kamu dapatkan. Lakukan saja hal-hal baik yang memang langsung terpikirkan. Mengucap terima kasih. Menyapa. Salim. Menjenguk teman yang sakit. Memberi sumbangan pada yang membutuhkan. Donor darah. Lakukan hal baik sebanyak-banyaknya, mungkin itu tidak akan membuatmu menjadi orang baik, tapi setidaknya akan membuat dirimu merasa ringan.

yang kedua, masih sama saran dari ibuku, yaitu:

DOBRAK!

Dobrak segala rasa malas dan menunda, bangunlah keteraturan, disiplin, konsisten, istiqomah :) Karena aku yakin kekonsistenan, dalam sikap maupun keseharian, adalah kunci kesuksesan.

Marilah kita buka tahun ini dengan tulisan ini dan foto lucu dari Sukron, anjing bedahku, makhluk diujinya tali pertemanan, yang sekarang sudah diadopsi orang lain.

sukron

Semarang, 2 Januari 2017

Alfian H. Feisal

Wanna discussion? please contact:

alfian.h.feisal@gmail.com | idline: xtumanax | IG: @alfianherditmn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: