Untuk Si Kuning, dari Si Biru

Assalamualaikum wr wb. Sambil dengerin band yang telah tutup usia Aku termasuk orang yang sedikit mempunyai Synesthesia, yaitu dapat mengasosiasikan warna ataupun huruf (dan jamaknya) dengan warna, seperti aku melihat 2015 dengan warna biru, 2016 dengan warna hijau. Dan sekarang dari hijau sudah melompat ke warna kuning, kuning cerah, 2017. Paling asyik adalah melongok kebelakang, dalamLanjutkan membaca “Untuk Si Kuning, dari Si Biru”

Memoar yang Terburu-buru

Halo, Marhaban Ya Ramadhan, tidak kusangka waktu sebegini cepatnya bergulir. Ramadhan telah kembali untuk menyapa kita kembali. Setahun berlalu, walau minus 11 hari. Terasa cepat karena banyak yang harus dikerjakan, tapi terasa lambat karena begitu banyak yang dipikirkan. Tidak ada topik khusus yang ingin aku bahas disini tidak seperti postingan-postinganku sebelumnya. Aku ingin menulis sesuatuLanjutkan membaca “Memoar yang Terburu-buru”

Homo sapiens, makhluk paling sombong

Biar hits macam trit tembus pandang di kaskus, bisa sambil dengerin laguĀ ini Saya adalah calon dokter hewan, Insya Allah. Namun sepertinya bukan hanya saya saja yang meyakini bahwa semakin saya mendalami objek saya (yaitu hewan) semakin banyak misteri yang muncul. Saya yakin di tengah kemajuan teknologi bukan berarti kita semakin mengerti. Kita mungkin sudah mencapaiLanjutkan membaca “Homo sapiens, makhluk paling sombong”

“Mas, kenapa kedokteran hewan?”

Pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini, merupakan sebuah pertanyaan dasar yang pastinya pernah diajukan kepada -entah itu sudah berprofesi ataupun sedang dalam masa studi- seorang dokter hewan. Minimal sekali. Pasti. Aku yang baru satu setengah tahun berkuliah di jurusan ini saja sudah berkali-kali dicecar pertanyaan serupa, mulai dari keluarga, teman sekolah, bapak-bapak yang kebetulan ngobrolLanjutkan membaca ““Mas, kenapa kedokteran hewan?””